Senin, 07 Januari 2019



MENGENAL TOKOH FILSAFAT ISLAM :
A.    Latar Belakang
Peradaban Islam diikuti munculnya berbagai pemikiran yang berkembang dalam Islam. Berbagai pemikiran yang muncul tersebut salah satunya filsafat Islam. Pemikiran yang berkembang dalam filsafat Islam memang diwarnai oleh pemikiran filsafat Yunani yang masuk ke dalam Islam. Filsafat Islam adalah hasil dari pemikiran dalam Islam yang telah berinteraksi dengan filsafat Yunani atau yang lainnya.
Filsafat Islam yang dipelopori oleh para filosof muslim timur telah banyak menghasilkan buah pemikiran yang begitu beragam. Dalam filsafat Islam para filosof muslim memadukan antara agama dan filsafat. Para ilmuwan muslim terdahulu sesungguhnya memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan kajian tentang filsafat. Di antara filosof Islam pada periode awal ialah Ibn Bajjah. Ibn Bajjah dikenal sebagai filosof Islam yang sangat rasional. Dalam makalah ini akan dibahas tentang salah satu filosof muslim yaitu Ibn Bajjah, baik mengenai biografi, karya-karyanya maupun tentang pemikiran filsafatnya.

A.    Biografi Ibn Bajjah
Abu Bakr Muhammad Ibn al-Sayigh, yang terkenal dengan Ibn Bajjahh. Orang-orang Eropa pada abad pertengahan menyebut Ibn Bajjahh dengan “Avempace”, sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibn Sina, Ibn Gaberol, Ibn Thufail dan Ibn Rusyd, masing-masing dengan Avicenna,Avicebron, Abubacer, dan Averroes. Ibn Bajjahh dilahirkan di Zaragosa pada abad ke-11 Masehi. Tahun kelahirannya yang pasti tidak diketahui, demikian pula masa kecil dan masa mudanya. Sejauh yang dapat dicatat oleh sejarah ialah bahwa ia hidup di Seville, Granada, dan Fez; menulis beberapa risalah tentang logika di kota Seville pada tahun 1118 M. Menurut beberapa literatur, Ibn Bajjahh bukan hanya seorang filosof murni, tetapi juga seorang saintis yang menguasai beberapa disiplin ilmu pengetahuan, seperti kedokteran, astronomi, musikus, dan matermatika. Ia juga aktif dalam dunia politik, sehingga Gubernur Zaragosa Daulat al-Murabith, Abu Bakar Ibn Ibrahim al-Sahrawi mengangkatnya menjadi wazir (penasehat keagamaan).[1]
Ketika Zaragosa jatuh ke tangan Alfonso I, Raja Aragon, pada tahun 512 H/1118 M, Ibn Bajjahh pergi ke Seville melalui Valencia dan tinggal di sana sebagai seorang dokter. Sesudah Seville juga diduduki Raja Alfonso I beberapa waktu kemudian, ia pindah ke Granada. Tatkala ia transit di Syatibah (Jativa, selatan Valencia, Spanyol), ia dipenjarakan oleh amir setempat dengan tuduhan membuat bi’dah, tetapi segera dibebaskan. Setelah ia bebas, ia pergi ke Fez (kini Maroko), memasuki istana GubernurAbu Bakar Yahya bin Yusuf bin Tasyfin (Ibn Tasyfin) dan menjadi pejabat tinggi berkat kemampuan dan pengetahuannya. Dia memegang jabatan tinggi itu selama 20 tahun. Orang-orang yang tidak sepaham dengannya mencapnya sebagai ahli bid’ah dan beberapa kali mengadakan usaha pembunuhan terhadapnya. Semua usaha itu gagal,namun baru berhasil dilakukan oleh seorang dokter termasyhur, Abul Ala bin Zuhr, dengan racun. Dan Ibn Bajjah meninggal dunia di Fez pada tahun1138 M ketika usianya belum tua.[2]
B.     Karya-Karya Ibn Bajjahh
Selama hidup Ibn Bajjahh mendalami ilmu alam, ilmu matematika, ilmu astronomi dan musik. Ia banyak menulis uraian dan penjelasan tentang filsafat Aristoteles, dengan demikian ia membuka pintu bagi Ibn Rusyd. Dari buku-buku Ibn Bajjahh, Ibn Rusyd banyak mengambil intisari pemikirannya bahkan dalam batas-batas tertentu ia terpengaruh olehnya. Ibn Thufail memuji Ibn Bajjahh dengan pernyataan “Di kalangan para filosof, Ibn Bajjahh adalah paling cerdas fikirannya, paling tepat pandangannya paling benar pendapatnya.” Akan tetapi, menurutnya lebih lanjut “Ia berkecimpung di dalam soal-soal keduniaan. Hingga ia wafat, semua perbendaharaan ilmunya dan simpanan hikmahnya (filsafatnya) belum sempat diterbitkan.
Sebagian besar, buku-buku yang ditulisnya tidak lengkap dan beberapa bagian akhirnya hilang dan rusak, seperti bukunya Fian-Nafsi (Tentang jiwa) dan Tadbirul Mutawahhid. Pernyataan Ibn Thufail itu memang benar, Ibn Bajjahh tidak sempat menulisbuku filsafat. Tidak seperti Ibn Sina, sekalipun ia sibuk kerja sebagai wazir, namun ia sanggup menyelesaikan dua bukunya yang terbesar, yaitu asy-Syifa dan al-Qanun. Ibn Bajjahh masih beruntung karena buku-bukunya Tadbirul Mutawahhid, Fian-Nafsi dan Risalatul-Ittishal telah selesai dicetak. Risalahnya yang lain masih berupa tulisan tangan dan belum diterbitkan.[3]
Untuk mengetahui informasi tentang karya Ibn Bajjahh, penulis gambarkan dua karya Ibn Bajjahh yang populer, yaitu Tadbirul Mutawahhid dan Risalatul-Ittishal yang penulis sarikan dari tulisan Ahmad Fuad al-Ahwani. Pertama, Tadbirul- Mutawahhid adalah sebuah buku tentang moral dan politik yang disusun menurut buku al-Madinatul-Fadhilah karya al-Farabi. Kesimpulan pendapat Ibn Bajjahh dapat dilihat dari judul buku itu sendiri. Yang dimaksud dengan mutawahhid ialah manusia yang hidup menyendiri, hidup di dalam menara gading, merenungkan berbagai ilmu teoritis. Dengan cara begitu ia dapat berhubungan dengan al-‘Aqlul-Fa’al (Full Force Mind). Memang benar bahwa tabiat manusia sebagai makhluk yang beradab menurut kodratnya. Akan tetapi Ibn Bajjahh berpendapat bahwa hidup memencilkan diri pada hakikatnya lebih baik. Seperti yang dikatakan olehnya: “Untuk itu orang yang hidup menyendiri, dalam beberapa segi kehidupannya sedapat mungkin harus menjauhkan diri dari orang lain, tidak mengadakan hubungan dengan orang lain kecuali dalam keadaan mendesak atau sekedar menurut keperluan, atau ia pergi hijrah ke tempat yang banyak terdapat ilmu pengetahuan kalau ada. Sikap sedemikian itu tidak bertentangan dengan apa yang disebut dengan nama ilmu peradaban, dan tidak bertentangan pula dengan apa yang tampak jelas di dalam ilmu alam. Telah jelas bahwa manusia adalah berada menurut kodratnya.
Kedua, dalam Risalatul-Ittishal Ibn Bajjahh membagi manusia dalam tiga golongan, yaitu: kaum awam (al-jumhur), an-nudzdzar (kaum khawas atau kaum cendekiawan) dan kaum yang bahagia. Kaum awam dapat menjangkau gambaran yang masuk akal lewat penglihatannya kepada alam nyata, ataudari ketergantungannya kepada alam wujud. Kaum khawas berhubungan dengan soal-soal yang masuk akal lebih dulu, barulah kemudian mereka berhubugan dengan alam nyata. Adapun kaum yang bahagia jumlahnya amat sedikit ialah mereka yang berhubungan langsung dengan segala yang masuk akal. Mereka adalah orang-orang yang dapat melihat segala sesuatu dengan jiwa (rohaninya).



[1]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hlm. 157.
[2]Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru vanHoeve, 2002), hlm. 152.
[3]Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), hlm. 98-99.
https://powermathematics.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar