A. Latar
Belakang
Peradaban Islam diikuti munculnya berbagai pemikiran yang
berkembang dalam Islam. Berbagai pemikiran yang muncul tersebut salah satunya filsafat
Islam. Pemikiran yang berkembang dalam filsafat Islam memang diwarnai oleh
pemikiran filsafat Yunani yang masuk ke dalam Islam. Filsafat Islam adalah
hasil dari pemikiran dalam Islam yang telah berinteraksi dengan filsafat Yunani
atau yang lainnya.
Filsafat Islam yang dipelopori oleh para filosof muslim
timur telah banyak menghasilkan buah pemikiran yang begitu beragam. Dalam
filsafat Islam para filosof muslim memadukan antara agama dan filsafat. Para
ilmuwan muslim terdahulu sesungguhnya memiliki andil yang sangat besar dalam
mengembangkan kajian tentang filsafat. Di antara filosof Islam pada periode
awal ialah Ibn Bajjah. Ibn Bajjah dikenal sebagai filosof Islam yang sangat
rasional. Dalam makalah ini akan dibahas tentang salah satu filosof muslim
yaitu Ibn Bajjah, baik mengenai biografi, karya-karyanya maupun tentang pemikiran
filsafatnya.
A.
Biografi
Ibn Bajjah
Abu Bakr Muhammad Ibn al-Sayigh, yang terkenal dengan Ibn Bajjahh.
Orang-orang Eropa pada abad pertengahan menyebut Ibn Bajjahh dengan “Avempace”, sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibn
Sina, Ibn Gaberol, Ibn Thufail dan Ibn Rusyd, masing-masing dengan
Avicenna,Avicebron, Abubacer, dan Averroes. Ibn Bajjahh dilahirkan di Zaragosa
pada abad ke-11 Masehi. Tahun kelahirannya yang pasti tidak diketahui, demikian
pula masa kecil dan masa mudanya. Sejauh yang dapat dicatat oleh sejarah ialah
bahwa ia hidup di Seville, Granada, dan Fez; menulis beberapa risalah tentang logika di kota Seville pada tahun 1118 M. Menurut beberapa literatur,
Ibn Bajjahh bukan hanya seorang filosof murni, tetapi juga seorang
saintis yang menguasai beberapa disiplin ilmu pengetahuan, seperti kedokteran,
astronomi, musikus, dan matermatika. Ia juga aktif dalam dunia politik,
sehingga Gubernur Zaragosa Daulat al-Murabith, Abu Bakar Ibn Ibrahim al-Sahrawi
mengangkatnya menjadi wazir (penasehat keagamaan).[1]
Ketika Zaragosa jatuh ke tangan Alfonso I, Raja Aragon, pada tahun 512
H/1118 M, Ibn Bajjahh pergi ke Seville melalui Valencia dan tinggal di sana
sebagai seorang dokter. Sesudah Seville juga diduduki Raja Alfonso I beberapa
waktu kemudian, ia pindah ke Granada. Tatkala ia transit di Syatibah (Jativa,
selatan Valencia, Spanyol), ia dipenjarakan oleh amir setempat dengan tuduhan
membuat bi’dah, tetapi segera dibebaskan. Setelah ia bebas, ia pergi ke Fez
(kini Maroko), memasuki istana GubernurAbu Bakar Yahya bin Yusuf bin Tasyfin (Ibn
Tasyfin) dan menjadi pejabat tinggi berkat kemampuan dan pengetahuannya. Dia
memegang jabatan tinggi itu selama 20 tahun. Orang-orang yang tidak sepaham
dengannya mencapnya sebagai ahli bid’ah dan beberapa
kali mengadakan usaha pembunuhan terhadapnya. Semua usaha itu gagal,namun baru berhasil dilakukan oleh seorang dokter termasyhur, Abul Ala bin Zuhr,
dengan racun. Dan Ibn Bajjah meninggal dunia di Fez pada tahun1138 M ketika usianya belum tua.[2]
B.
Karya-Karya
Ibn Bajjahh
Selama hidup Ibn Bajjahh mendalami ilmu alam, ilmu matematika, ilmu
astronomi dan musik. Ia banyak menulis uraian dan penjelasan tentang filsafat Aristoteles, dengan demikian ia membuka pintu bagi Ibn Rusyd. Dari buku-buku Ibn Bajjahh, Ibn Rusyd banyak mengambil intisari pemikirannya bahkan dalam batas-batas tertentu ia terpengaruh olehnya. Ibn Thufail memuji Ibn Bajjahh dengan pernyataan “Di
kalangan para filosof, Ibn Bajjahh adalah paling cerdas fikirannya, paling tepat pandangannya paling benar
pendapatnya.” Akan tetapi, menurutnya lebih lanjut “Ia berkecimpung di dalam
soal-soal keduniaan. Hingga ia wafat, semua perbendaharaan ilmunya dan simpanan hikmahnya (filsafatnya) belum sempat diterbitkan.
Sebagian besar, buku-buku yang ditulisnya tidak lengkap dan beberapa bagian akhirnya hilang dan rusak, seperti bukunya Fian-Nafsi (Tentang
jiwa) dan Tadbirul Mutawahhid. Pernyataan Ibn Thufail itu memang benar, Ibn Bajjahh tidak sempat menulisbuku
filsafat. Tidak seperti Ibn Sina, sekalipun ia sibuk kerja sebagai wazir, namun ia sanggup menyelesaikan dua bukunya yang terbesar, yaitu asy-Syifa dan al-Qanun. Ibn Bajjahh
masih beruntung karena
buku-bukunya Tadbirul Mutawahhid, Fian-Nafsi dan Risalatul-Ittishal telah
selesai dicetak. Risalahnya yang lain masih berupa tulisan tangan dan belum diterbitkan.[3]
Untuk mengetahui informasi tentang karya Ibn Bajjahh, penulis gambarkan dua
karya Ibn Bajjahh yang populer, yaitu Tadbirul Mutawahhid dan Risalatul-Ittishal
yang penulis sarikan dari tulisan Ahmad Fuad al-Ahwani. Pertama,
Tadbirul- Mutawahhid adalah sebuah buku tentang moral dan politik yang
disusun menurut buku al-Madinatul-Fadhilah karya al-Farabi. Kesimpulan
pendapat Ibn Bajjahh dapat dilihat dari judul buku itu sendiri. Yang dimaksud
dengan mutawahhid ialah manusia yang hidup menyendiri, hidup di dalam
menara gading, merenungkan berbagai ilmu teoritis. Dengan cara begitu ia dapat
berhubungan dengan al-‘Aqlul-Fa’al (Full Force Mind). Memang benar bahwa
tabiat manusia sebagai makhluk yang beradab menurut kodratnya. Akan tetapi Ibn Bajjahh
berpendapat bahwa hidup memencilkan diri pada hakikatnya lebih baik. Seperti
yang dikatakan olehnya: “Untuk itu orang yang hidup menyendiri, dalam beberapa
segi kehidupannya sedapat mungkin harus menjauhkan diri dari orang lain, tidak
mengadakan hubungan dengan orang lain kecuali dalam keadaan mendesak atau
sekedar menurut keperluan, atau ia pergi hijrah ke tempat yang banyak terdapat
ilmu pengetahuan kalau ada. Sikap sedemikian itu tidak bertentangan dengan apa
yang disebut dengan nama ilmu peradaban, dan tidak bertentangan pula dengan apa
yang tampak jelas di dalam ilmu alam. Telah jelas bahwa manusia adalah berada
menurut kodratnya.
Kedua, dalam Risalatul-Ittishal Ibn Bajjahh membagi manusia dalam
tiga golongan, yaitu: kaum awam (al-jumhur), an-nudzdzar (kaum
khawas atau kaum cendekiawan) dan kaum yang bahagia. Kaum awam dapat menjangkau
gambaran yang masuk akal lewat penglihatannya kepada alam nyata, ataudari
ketergantungannya kepada alam wujud. Kaum khawas berhubungan dengan soal-soal
yang masuk akal lebih dulu, barulah kemudian mereka berhubugan dengan alam
nyata. Adapun kaum yang bahagia jumlahnya amat sedikit ialah mereka yang berhubungan langsung dengan segala yang masuk akal.
Mereka adalah orang-orang yang dapat melihat segala sesuatu dengan jiwa
(rohaninya).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar