Refleksi Mata Kuliah
Filsafat Pendidikan
Minggu ke-8, Selasa, 23
Oktober 2018
Timeline Ilmu Filsafat
Pada perkuliahan ini
Prof. Dr. Marsigit,M.A, menjelaskan timeline Ilmu Filsafat. Prof. Marsigit
menjelaskan sejarah atau perkembangan ilmu filsafat, dari filsafat kuno dengan
tokohnya Aristoteles, Sokrates sampai filsafat modern Imanuel Kant dan Aguste
Compte. Belajar filsafat bagi kebanyakan orang adalah ilmu yang memusingkan.
Memang terkesan memusingkan karena sejarah perjalannannya yang panjang dan
sering kali pemikiran para filsuf tidak mudah dijangkau oleh kebanyakan orang.
Belajar filsafat yang sebenarnya belajar bijaksana. Tidak ada kebenaran dan
kesalahan yang mutlak, selain datangnya dari Alloh Tuhan semesta alam. Jadi
berfikir dalam konteks filsafat tidak ada yang salah secara mutlak. Hasil
berfikir manusia adalah berfilsafat yang patut untuk dihargai dan diterima.
Dalam sejarah filsafat,
filsafat merupakan induknya ilmu. Ilmu matematika, geografi, astronomi adalah
salah satu ilmu buah pikiran para filsuf. Jika membaca sejarah filsafat
kebanyakan tokoh filsafat adalah beraliran atheis (seperti Aristoteles), dan
ini yang sering ditakuti oleh kelompok agama untuk menjauhi belajar filsafat.
Berbeda dengan Prof. Marsigit selalu menempatkan Spiritual dalam posisi paling
atas dalam kajian filsafatnya. Belajar ilmu filsafat dengan Prof. Marsigit yang
selalu mengedepankan Spiritual membuat kita banyak belajar, bahwa belajar
filsafat tidak membuat kita akan tergelincir pada atheis. Menempatkan Spiritual
dalam posisi paling atas menggambarkan bahwa hidup tidaklah bisa lepas dengan
Alloh yang Maha Segalanya. Puncak hasil pemikiran filsafat adalah spiritual
yang bersandar kepada Alloh pemberi Segala Ilmu. Semua hasil berfikir merujuk
pada Spritual yaitu Tuhan Alam Semesta. Jadi tidaklah akan menjadi jauh dari
Tuhan jika kita belajar filsafat, jika kita juga bersandar pada ilmu agama
sebagai filter.
Yang selalu menarik
dalam perkuliahan Prof. Marsigit, adalah meminta kita untuk terus membaca
tulisan-tulisan beliau dan memberikan komentar pada Blog Beliau. Ini membuat
kita untuk terus membaca, terus belajar dalam banyak hal terutama dalam dunia
pendidikan. Di setiap pertemuan kita diminta untuk membuat pertanyaan tentang
filsafat yang membuat kita untuk terus berfikir. Satu lagi yang tidak kalah
menarik adalah tes. Tes diberikan diawal sebelum memulai perkuliahan. Tes yang
selalu sulit untuk bisa menjawab, membuat kita banyak belajar. Belajar dan
introspeksi diri bahwa sebenarnya kita mempunyai keterbatasan. Keterbatasan
dalam ilmu pengetahuan membuat kita tidak tinggi hati. Di atas ilmu masih ada
ilmu dan dibawah ilmu masih ada ilmu. Begitu Prof. Marsigit mengatakan dari
Imanuel Kant di bawah bumi masih ada bumi. Artinya tidaklah patut kita
bertinggi hati atau sombong karena kita masih jauh dari sempurna. Kesempurnaan
hanyalah milik Alloh Tuhan Semesta Alam. Itulah Spritual yang merupakan puncak
dari belajar filsafat.
Refleksi Mata Kuliah
Filsafat Pendidikan
Minggu ke-9, Selasa, 30
Oktober 2018
Timeline Philosopher
Belajar
filsafat tidaklah lengkap jika tidak mengenal para filsuf. Pada perkuliahan
minggu ke-9 Prof.Marsigit mengajak kita untuk berkenalan denga para filsuf.
Beliau selalu mengatakan bahwa tidaklah belajar filsafat jika tidak mengikuti pemikiran
para filsuf. Pada pembahasan Timeline
Philosopher membuat kita mengenal para filsuf dan alirannya. Tokoh filsuf
pada zaman Yunani seperti Protagoras beraliran relativisme,Pitagoras, Diagoras
beraliran atheis, Pyrrho beraliran Skeptisme, dan masih banyak lagi. Pada
pembahasan ini menunjukkan bahwa banyak tokoh dan alirannya sepanjang sejarah
filsafat.
Membaca
timeline tersebut membuat kita paham
bahwa banyak aliran atau faham para fisuf dalam hasil fikirnya. Para filsus
dengan alirannya tidaklan lepas dari hasil pikirnya. Hasil pikir yang berbeda
tersebut menunjukkan bahwa mempelajari
hal yang sama yaitu kehidupan, menangkap fenomena kehidupan akan menghasilkan faham yang berbeda. Pemahaman tersebut adalah
aliran atau bahkan menjadi ideologi, misalnya sosialis, komunis, atau
plurarisme. Faham atau aliran para filsuf merupakan merupakan ideology yang
melekat pada dirinya dan pengikutnya. Mengetahui faham filsuf dalam filsafat
hanyalah sebatas tahu tentang sejarah filsafat dari waktu ke waktu di berbagai
belahan dunia. Tidaklah wajib kita mengikuti fahamnya, logika berfikirnya bisa
kita pejari untuk belajar ilmu filsafat. Kita sebagai orang yang beragama dan
memegang teguh ajarannya, hendaklah selektif. Agama sebagai filter agar kita
tidak terjebak dalam faham atheis, sosialis yang juga tidak cocok untuk Bangsa
Indonesia. Bangsa yang beragama dengan meletakkan Spritual sebagai puncak dalam
belajar filsafat. Banyaknya faham membuat kita berhati-hati untuk belajar
filsafat. Kita harus pandai-pandai memilih filsuf yang sesuai dengan faham dan
ideologi kita. Jadi tidaklah mutlak kita mengikuti pemikiran para filsuf. Kita
berhak untuk memilah yang sesuai dengan faham kita. Banyaknya faham para filsuf
merupakan khasana corak dunia yang berwana warni tinggal kita bisa dengn bijak
untuk memilihnya dalam belajar filsafat.
.
Refleksi Mata Kuliah
Filsafat Pendidikan
Minggu ke-10, Selasa, 6
November 2018
Tanya Jawab dan Filsafat Pancasila
Pada
minggu ke-10, seperti biasa perkuliahan dimulai dengan tes jawab singkat. Tes
jawab singkat selalu membuat kita untuk selalu beriap, berlapang dada untuk
menerima bahwa kita masih jauh dari sempurna. Jauh dari sempurna karena
pertanyaan dari Prof. Marsigit tidak bisa dijawab dengan benar. Betul 2 soal
dari 20 soal adalah sebuah prestasi karena diantara teman-teman masih
mendapatkan betul 0. Lagi-lagi merupakan kesempatan untuk introspeksi diri
bahwa kita jauh dari sempurna. Jauh dari sempurna membuat kita tidak boleh
tinggi hati.
Setelah
tes jawab singkat, kita diminta untuk membuat pertanyaan. Membuat pertanyaan
sambil mendapat penjelasan tentang Filsafat Pancasila. Filsafat pancasila
merupakan pemersatu bangsa Indonesia. Jika tidak mempertahankan Filsafat maka
NKRI akan tidak bersatu. Pancasila merupakan pemersatu berbedaan bangsa
Indonesia yang beraneka ragam. Perbedaan harus disikapi dengan bijaksana, agar
tidak terjadi perpecahan. Sebagaimana belajar filsafat adalah belajar bijaksana
tidak mengedepankan ego pribadi. Setiap orang mempunyai kepentingan, setiap
orang berhak memilih yang dia kehendaki. Namun dengan adanya filsafat Pancasila
merupakan pemersatu yang tidak akan menimbulkan ketegangan karena perbedaan.
Jadi haruslah bijaksana untuk menyikapi perbedaan
agar tidak terjadi tersinggung yang berujung ketegangan. Menjaga NKRI adalah
kewajiban bangsa yang mencitai perdamaian demi persatuan bangsa dan Negara
Indonesia.
Refleksi Mata Kuliah
Filsafat Pendidikan
Minggu ke-11, Selasa, 13November
2018
Demokrasi
Pendidikan
Pada
perkuliahan minggu ke-11, Prof. Marsigit berbagi tentang paparan orasi
ilmiahnya tentang Demokrasi Pendidikan. Demokrasi pendidikan dalam sudut
pandang filsafat adalah bijaksana dalam menerima hasil pemikiran orang lain,
menghormati harkat dan martabat manusia, dan rela mementingkan kesejahteraan
umum. Dalam penjelasan Beliau membahas sejarah demokrasi pendidikan orde baru
sampai sekarang. Menurut beliau masih ada hal-hal yang mempengaruhi demokrasi
pendidikan yaitu stuktur Negara. Struktur negara mempengaruhi kehidupan, pada
negara-negara timur seperti Indonesia mengedepankan Spiritual yaitu Alloh Tuhan
sebagai penentu kehidupan. Berbeda dengan para ilmuwan barat yang melakukan
riset untuk pembuktian bahwa Tuhan tidak ada. Seperti di Jepang, bunuh diri
merupakan jalan akhir jika seseorang merasa gagal.
Spiritualisme merupakan puncak
filsafat dalam implikasi demokrasi pendidikan. Namun masih terdapat ancaman
dalam praktek di masyarakat misalnya, nepotisme, kolusi, dan korupsi. Hal tersebut masih menjadi
kendala untuk demokrasi pendidikan yang sehat. Sebenarnya struktur negara sudah
menata untuk menuju baik. Kendala
Tersebut
masih harus terus diberbaiki dengan mengedepankan Spritualitas dalam segala
hal. Spritual yang meletakkan Alloh sebagai Penguasa Alam Semesta membuat
tatanan masyarakat menjadi lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar