Senin, 07 Januari 2019

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan


Refleksi Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
Minggu ke-8, Selasa, 23 Oktober 2018

Timeline Ilmu Filsafat
Pada perkuliahan ini Prof. Dr. Marsigit,M.A, menjelaskan timeline Ilmu Filsafat. Prof. Marsigit menjelaskan sejarah atau perkembangan ilmu filsafat, dari filsafat kuno dengan tokohnya Aristoteles, Sokrates sampai filsafat modern Imanuel Kant dan Aguste Compte. Belajar filsafat bagi kebanyakan orang adalah ilmu yang memusingkan. Memang terkesan memusingkan karena sejarah perjalannannya yang panjang dan sering kali pemikiran para filsuf tidak mudah dijangkau oleh kebanyakan orang. Belajar filsafat yang sebenarnya belajar bijaksana. Tidak ada kebenaran dan kesalahan yang mutlak, selain datangnya dari Alloh Tuhan semesta alam. Jadi berfikir dalam konteks filsafat tidak ada yang salah secara mutlak. Hasil berfikir manusia adalah berfilsafat yang patut untuk dihargai dan diterima.
Dalam sejarah filsafat, filsafat merupakan induknya ilmu. Ilmu matematika, geografi, astronomi adalah salah satu ilmu buah pikiran para filsuf. Jika membaca sejarah filsafat kebanyakan tokoh filsafat adalah beraliran atheis (seperti Aristoteles), dan ini yang sering ditakuti oleh kelompok agama untuk menjauhi belajar filsafat. Berbeda dengan Prof. Marsigit selalu menempatkan Spiritual dalam posisi paling atas dalam kajian filsafatnya. Belajar ilmu filsafat dengan Prof. Marsigit yang selalu mengedepankan Spiritual membuat kita banyak belajar, bahwa belajar filsafat tidak membuat kita akan tergelincir pada atheis. Menempatkan Spiritual dalam posisi paling atas menggambarkan bahwa hidup tidaklah bisa lepas dengan Alloh yang Maha Segalanya. Puncak hasil pemikiran filsafat adalah spiritual yang bersandar kepada Alloh pemberi Segala Ilmu. Semua hasil berfikir merujuk pada Spritual yaitu Tuhan Alam Semesta. Jadi tidaklah akan menjadi jauh dari Tuhan jika kita belajar filsafat, jika kita juga bersandar pada ilmu agama sebagai filter.
Yang selalu menarik dalam perkuliahan Prof. Marsigit, adalah meminta kita untuk terus membaca tulisan-tulisan beliau dan memberikan komentar pada Blog Beliau. Ini membuat kita untuk terus membaca, terus belajar dalam banyak hal terutama dalam dunia pendidikan. Di setiap pertemuan kita diminta untuk membuat pertanyaan tentang filsafat yang membuat kita untuk terus berfikir. Satu lagi yang tidak kalah menarik adalah tes. Tes diberikan diawal sebelum memulai perkuliahan. Tes yang selalu sulit untuk bisa menjawab, membuat kita banyak belajar. Belajar dan introspeksi diri bahwa sebenarnya kita mempunyai keterbatasan. Keterbatasan dalam ilmu pengetahuan membuat kita tidak tinggi hati. Di atas ilmu masih ada ilmu dan dibawah ilmu masih ada ilmu. Begitu Prof. Marsigit mengatakan dari Imanuel Kant di bawah bumi masih ada bumi. Artinya tidaklah patut kita bertinggi hati atau sombong karena kita masih jauh dari sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Alloh Tuhan Semesta Alam. Itulah Spritual yang merupakan puncak dari belajar filsafat.




Refleksi Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
Minggu ke-9, Selasa, 30 Oktober 2018

Timeline Philosopher
          Belajar filsafat tidaklah lengkap jika tidak mengenal para filsuf. Pada perkuliahan minggu ke-9 Prof.Marsigit mengajak kita untuk berkenalan denga para filsuf. Beliau selalu mengatakan bahwa tidaklah belajar filsafat jika tidak mengikuti pemikiran para filsuf. Pada pembahasan Timeline Philosopher membuat kita mengenal para filsuf dan alirannya. Tokoh filsuf pada zaman Yunani seperti Protagoras beraliran relativisme,Pitagoras, Diagoras beraliran atheis, Pyrrho beraliran Skeptisme, dan masih banyak lagi. Pada pembahasan ini menunjukkan bahwa banyak tokoh dan alirannya sepanjang sejarah filsafat.
          Membaca timeline tersebut membuat kita paham bahwa banyak aliran atau faham para fisuf dalam hasil fikirnya. Para filsus dengan alirannya tidaklan lepas dari hasil pikirnya. Hasil pikir yang berbeda tersebut  menunjukkan bahwa mempelajari hal yang sama yaitu kehidupan, menangkap fenomena kehidupan akan menghasilkan faham  yang berbeda. Pemahaman tersebut adalah aliran atau bahkan menjadi ideologi, misalnya sosialis, komunis, atau plurarisme. Faham atau aliran para filsuf merupakan merupakan ideology yang melekat pada dirinya dan pengikutnya. Mengetahui faham filsuf dalam filsafat hanyalah sebatas tahu tentang sejarah filsafat dari waktu ke waktu di berbagai belahan dunia. Tidaklah wajib kita mengikuti fahamnya, logika berfikirnya bisa kita pejari untuk belajar ilmu filsafat. Kita sebagai orang yang beragama dan memegang teguh ajarannya, hendaklah selektif. Agama sebagai filter agar kita tidak terjebak dalam faham atheis, sosialis yang juga tidak cocok untuk Bangsa Indonesia. Bangsa yang beragama dengan meletakkan Spritual sebagai puncak dalam belajar filsafat. Banyaknya faham membuat kita berhati-hati untuk belajar filsafat. Kita harus pandai-pandai memilih filsuf yang sesuai dengan faham dan ideologi kita. Jadi tidaklah mutlak kita mengikuti pemikiran para filsuf. Kita berhak untuk memilah yang sesuai dengan faham kita. Banyaknya faham para filsuf merupakan khasana corak dunia yang berwana warni tinggal kita bisa dengn bijak untuk memilihnya dalam belajar filsafat.

.
Refleksi Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
Minggu ke-10, Selasa, 6 November 2018

Tanya Jawab dan Filsafat Pancasila

            Pada minggu ke-10, seperti biasa perkuliahan dimulai dengan tes jawab singkat. Tes jawab singkat selalu membuat kita untuk selalu beriap, berlapang dada untuk menerima bahwa kita masih jauh dari sempurna. Jauh dari sempurna karena pertanyaan dari Prof. Marsigit tidak bisa dijawab dengan benar. Betul 2 soal dari 20 soal adalah sebuah prestasi karena diantara teman-teman masih mendapatkan betul 0. Lagi-lagi merupakan kesempatan untuk introspeksi diri bahwa kita jauh dari sempurna. Jauh dari sempurna membuat kita tidak boleh tinggi hati.
            Setelah tes jawab singkat, kita diminta untuk membuat pertanyaan. Membuat pertanyaan sambil mendapat penjelasan tentang Filsafat Pancasila. Filsafat pancasila merupakan pemersatu bangsa Indonesia. Jika tidak mempertahankan Filsafat maka NKRI akan tidak bersatu. Pancasila merupakan pemersatu berbedaan bangsa Indonesia yang beraneka ragam. Perbedaan harus disikapi dengan bijaksana, agar tidak terjadi perpecahan. Sebagaimana belajar filsafat adalah belajar bijaksana tidak mengedepankan ego pribadi. Setiap orang mempunyai kepentingan, setiap orang berhak memilih yang dia kehendaki. Namun dengan adanya filsafat Pancasila merupakan pemersatu yang tidak akan menimbulkan ketegangan karena perbedaan. Jadi haruslah  bijaksana untuk menyikapi perbedaan agar tidak terjadi tersinggung yang berujung ketegangan. Menjaga NKRI adalah kewajiban bangsa yang mencitai perdamaian demi persatuan bangsa dan Negara Indonesia.



Refleksi Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
Minggu ke-11, Selasa, 13November 2018

Demokrasi Pendidikan

            Pada perkuliahan minggu ke-11, Prof. Marsigit berbagi tentang paparan orasi ilmiahnya tentang Demokrasi Pendidikan. Demokrasi pendidikan dalam sudut pandang filsafat adalah bijaksana dalam menerima hasil pemikiran orang lain, menghormati harkat dan martabat manusia, dan rela mementingkan kesejahteraan umum. Dalam penjelasan Beliau membahas sejarah demokrasi pendidikan orde baru sampai sekarang. Menurut beliau masih ada hal-hal yang mempengaruhi demokrasi pendidikan yaitu stuktur Negara. Struktur negara mempengaruhi kehidupan, pada negara-negara timur seperti Indonesia mengedepankan Spiritual yaitu Alloh Tuhan sebagai penentu kehidupan. Berbeda dengan para ilmuwan barat yang melakukan riset untuk pembuktian bahwa Tuhan tidak ada. Seperti di Jepang, bunuh diri merupakan jalan akhir jika seseorang merasa gagal.
            Spiritualisme merupakan puncak filsafat dalam implikasi demokrasi pendidikan. Namun masih terdapat ancaman dalam praktek di masyarakat misalnya, nepotisme, kolusi,  dan korupsi. Hal tersebut masih menjadi kendala untuk demokrasi pendidikan yang sehat. Sebenarnya struktur negara sudah menata untuk  menuju baik. Kendala
Tersebut masih harus terus diberbaiki dengan mengedepankan Spritualitas dalam segala hal. Spritual yang meletakkan Alloh sebagai Penguasa Alam Semesta membuat tatanan masyarakat menjadi lebih baik.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar